Teringat akan film Avatar kegemaran anak – anakku, ada filosofi yang cukup menarik dalam film tersebut, yaitu kesempurnaan seorang manusia, yang mampu menyeimbangkan ketujuh cakra atau kolam energi dalam tubuhnya, ketujuh cakra ini akan tertutup oleh perasaan – perasaan malu, perasaan bersalah, kebodohan, bohong, marah, benci & kecewa, cinta dunia serta sulit menerima takdir…, jika perasaan – perasaan itu lebih sering datang maka sudah bisa dipastikan orang itu tidak akan memiliki keseimbangan dalam hidupnya, ia akan sakit tapi jika ia mampu melepaskan penghalang ketujuh cakranya maka ia akan menjadi manusia sempurna, manusia yang mampu mengoptimalkan kekuatan energi tubuhnya menjadi sebuah karya yang positif… indah sekali..
namun… sebenarnya alangkah lebih indah lagi jika aku menelusuri jejak rosululloh SAW dalam mengelola energi sukma (ruhnya), ia memiliki resep jitu untuk menjaga ketujuh cakranya agar tetap seimbang, ia senantiasa me-maintenance syahadah kepada Tuhannya dengan cara :
- Membekali diri dengan pengetahuan
Al-Ilmu almunafi liljahl (pengetahuan yang membatalkan kebodohan) katanya, pengetahuan menjadi pintu pembuka bagi jalannya pemahaman, pengetahuan yang meliputi ilmu langit dan bumi. Pengetahuan tantang ilmu tauhid yang benar , mentafakuri ayat – ayat qauniah maupun qauliyah-Nya, menemukan mutiara hidup di dalamnya.
Ayat berikut menjelaskan pengetahuan yang perlu dimiliki seorang muslim dalam syahadatain :
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah Mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” (QS. Muhammad 47:19)
“Dan sembah-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafaat; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).” (QS. Az-Zukkhruf 43:86)
2. Penerimaan
Dalam hidup, seringkali kita dihadapkan pada kenyataan – kenyataan yang tidak sesuai harapan, tubuh yang tegap, cantik, harta berlimpah, kedudukan tinggi, pujian dan pujaan orang sekeliling bahkan kemudahan mendapatkan suatu kesuksesan semudah membalikan telapak tangan, tiba – tiba tanpa permisi..semua kemudahan itu berganti kesukaran, kepahitan dan kemalangan, tubuh yang tegap tiba – tiba lumpuh, raga yang sehat tiba – tiba sakit, harta yang melimpah habis tak bersisa..tubuh menjadi ringkih, menjadi beban bagi lingkungannya, semua orang yang memuji dan memujanya mulai menjauh satu persatu..meninggalkan duka dan lara..
tak ada lagi yang tersisa tak ada yang mampu membebaskan hati dari kesedihan dan duka lara selain segumpal darah yang memiliki keluasan hati seluas samudra yang diliputi oleh rasa penerimaan yang tulus akan segala ketetapan-Nya..
Alqabulu almunafi lirrad (penerimaan yang membatalkan penolakan) , rosululloh SAW mengajarkan umatnya tentang penerimaan akan takdir yang baik maupun buruk serta penerimaan akan ketetapan-Nya tanpa reserve.
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mumin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah Menetapkan suatu Ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan merekaa. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab 33:36)
3. Keyakinan
Dengan kepasrahan akan ketentuan-Nya , melahirkan suatu keyakinan akan pertolongan dan kekuatan-Nya, Ialah satu – satunya Tuhan yang dapat mendatangkan manfaat maupun mudharat dalam hidupnya.
“Kalau Allah menimpakan suatu kemadharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia…” (QS. Yunus, 10:107)
“… sesungguhnya kekuatan itu milik Allah semua …” (QS. Al-Baqarah, 2:165)
Keyakinan ini akan membatalkan keragu-raguan (Alyaqinu almunafi lissyakk). Keyakinan yang melahirkan tekad jiddiyah (kesungguhan) dalam beramal.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada Jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat 49:15)
4. Keikhlasan
Kata junjunan kita Muhammad SAW, iklas artinya memurnikan ibadah hanya untuk-Nya.. tanpa pamrih tanpa tendesius apapun tanpa reserve semata mengharap belas kasih-Nya.
Al-Ikhlasu almunafi lissyirk (keikhlasan yang membatalkan kemusyrikan)
“Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhan-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhan-nya.” (QS. Al-Kahf 18:110)
tetapi ketika dalam hati terselip unsur – unsur lain selain-Nya sebagai tujuan atau orientasi ibadah kita, apa yang kita rasakan ketika amal terbaik yang sudah kita lakukan ternyata tidak mendapatkan respon dari makhluk-Nya (prestise)..wah…wah… kecewa dan sakit hati sudah pasti akan menyerbu masuk menusuk relung hati yang paling dalam..
5. Kejujuran
Jujur terhadap segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh dirinya sebagai manusia maupun diluar dirinya, sebagai sesama makhluk-Nya. Karena dengan menerima kekurangsempurnaan diri untuk menemukan kelebihan serta potensi diri lain yang bisa dikembangkan, melahirkan sikap yang tawadhu untuk terus menempa diri menjadi manusia yang sempurna menurut pandangan-Nya.
Asshidqu almunafi lilkadzib (kejujuran yang membatalkan kebohongan)
“Diantara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya), supaya Allah Memberikan Balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan Menyiksa orang munafiq jika Dikehendaki-Nya, atau Menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab 33:23-24)
6. Kecintaan
Cinta hakiki, cinta yang berlandaskan cinta-Nya, bukan cinta dunia yang berdasarkan hawa nafsu, cinta akan melahirkan rasa kasih sayang dan membebaskan kebencian atau kemarahan, cinta akan membuat energi hidup mengalir dengan sempurna, ia akan menyinari sekeklilingnya seperti matahari menyinari bumi, menghangatkan lingkungannya.
Almahabbatu almunafiyatu lilbughdhi wal karahah (cinta yang membatalkan kemarahan dan kebencian).
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. …” (QS. Al-Baqarah 2:165)
Cinta kepada-Nya membutuhkan pembuktian melalui :
‘Alamatul Mahabbah (Tanda-tanda kecintaan kepada Allah) :
- Katsratu Dzikri (Banyak dzikir)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu, hanyalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (Al Anfaal 8:2)
- Al I’jab (kagum)
“Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (Al Fatihah 1:1)
- Ar Ridha
“… Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang Mukmin.” (QS. At-Taubah 9:62)
- Tadhiyah (siap berkorban)
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari Keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada Hamba-hamba-Nya.”(QS. Al-Baqarah 2:207)
- Al Khauf (takut)
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.’ (QS. An-Anbiya’ 21:90)
- Ar Raja (mengharap) (21:90)
- At Tha’at (mentaati)
“Barangsiapa yang mentaati rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS. An-Nisa’, 4:80)
7. Kepatuhan
Orang yang memiliki cinta tanpa syarat kepada tuannya, maka ia mematuhi , mentaati apapun yang diminta oleh tuannya. Manusia yang mencintai Tuhannya (Allah SWT) tanpa syarat, ia akan dengan suka cita meninggalkan hal – hal yang tidak disukai-Nya dan sangat merindukan untuk bersegera menuju seruan-Nya..
Al-Inqiyadu almunafi lilimtina’i wat tarki wa ‘adamil ‘amal (kepatuhan yang membatalkan pengingkaran, meninggalkan dan tidak beramal)
“Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur 24:51)
Ternyata, ketujuh hal tadi mampu menjadikan manusia sempurna seperti Rosululloh SAW, kalau kemudian ada yang mengatakan, pantas saja ia sempurna karena ia seorang nabi dan Rosul, tapi cobalah melihat lebih dekat lagi, Muhammad tetap saja seorang manusia yang Allah SWT berikan ujian dan cobaan hidup sebagaimana layaknya manusia yang lainnya, namun ia memberikan 7 kunci sukses (cakra) untuk membuka kesempurnaan diri umatnya …..mudah – mudahan kita mampu mengamalkannya..amin


Recent Comments